Pengawalkebijakan.id,-Sebuah video yang memilukan dan memicu polemik tengah viral di media sosial. Video tersebut memperlihatkan seorang ibu rumah tangga muda di sebuah pasar di Kalimantan diikat dan dipertontonkan kepada orang banyak. Kejahatan yang dituduhkan padanya? Mencuri seekor ikan dari seorang penjual.
Dalam video yang beredar, terlihat ibu muda itu dalam kondisi memprihatinkan. Ekspresi wajahnya penuh rasa malu, takut, dan kepasrahan sementara ia menjadi tontonan warga yang lalu lalang. Adegan ini menuai kecaman luas dari warganet yang menyayangkan tindakan di luar batas kemanusiaan tersebut.
Baca juga,:LP.K-P-K Bolmut – SULUT Desak Tindak Tegas Dugaan Penyalahgunaan Solar Subsidi di SPBU Boroko
Setelah ditelusuri, alasan di balik aksi pencurian itu justru membuat banyak orang terenyuh dan iba. Saat ditanya, ibu muda itu mengaku terpaksa mencuri seekor ikan karena tidak memiliki uang sama sekali untuk membelinya.
Dengan linangan air mata, ia berusaha menjelaskan, “Saya mencuri seekor ikan buat makan anak saya yang masih kecil. Dari tadi pagi anak saya menangis pengen makan ikan. Suami saya kabur meninggalkan saya dan anak saya.”
Pengakuan itu mengungkap kondisi hidupnya yang serba kekurangan, seorang ibu tunggal yang berjuang menghidupi anaknya dalam keterbatasan yang ekstrem.
Viralnya kejadian ini membanjiri kolom komentar media sosial dengan beragam tanggapan. Banyak netizen mengutuk keras tindakan penjual ikan yang dinilai sudah melebihi batas. Mereka menilai, meski mencuri adalah perbuatan salah, tetapi penghukuman fisik dan mempermalukan di publik bukanlah solusi yang beradab.
Seperti yang diungkapkan salah satu akun, Khofifah Ummu Hatta, yang mendapatkan banyak dukungan: “Mencuri memang salah, tapi hanya 1 ekor ikan untuk bertahan hidup, tidak akan membuatmu miskin wahai penjual ikan. Yang terhormat, apa salahnya jika bisa berbagi? Akan mendatangkan rezeki yang lebih banyak & barakah,…semoga ibu dan anak-anaknya diangkat derajatnya oleh Allah, dan tidak mencuri lagi. Lebih baik meminta, jangan mencuri.”
Banyak komentar lain menyoroti sisi empati dan bantuan sosial. Bagi mereka, dalam kondisi seperti itu, seharusnya masyarakat, termasuk si penjual, bisa mengulurkan tangan membantu alih-alih menghukum. Tindakan tersebut dinilai tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman yang mengutamakan kasih sayang, terutama kepada mereka yang dalam kesusahan.
Menyoroti Akar Masalah: Kemiskinan dan Ketiadaan Jaring Pengaman Sosial, Kasus ini juga membuka kembali diskusi tentang kemiskinan ekstrem dan kerentanan kelompok tertentu, khususnya ibu tunggal, di berbagai daerah. Banyak yang mempertanyakan di mana peran tetangga, keluarga besar, atau bahkan program bantuan sosial dari pemerintah setempat, sehingga seorang ibu sampai harus mengambil jalan pintas yang berisiko untuk sekadar memberi makan anaknya.
Para ahli sosial dan tokoh masyarakat pun mulai angkat bicara. Mereka mengimbau agar masyarakat tidak main hakim sendiri. Jika menemukan kasus pencurian kecil karena tekanan ekonomi, sebaiknya diselesaikan dengan cara kekeluargaan, atau melibatkan pihak berwajib dengan tetap mempertimbangkan sisi humanitas dan alasan di baliknya.
Insiden memilukan ini menjadi cermin bagi kita semua. Di satu sisi, kita diajak untuk tidak meremehkan hukum dan hak orang lain. Di sisi lain, kita diingatkan untuk selalu membuka mata dan hati terhadap kesulitan sesama. Keadilan tanpa belas kasihan bisa berubah menjadi kekejian. Semoga kejadian ini menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian sosial, memperkuat jaring pengaman bagi warga miskin, dan menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang lebih beradab dan penuh hikmah.
Banyak warganet mendoakan agar ibu muda dan anaknya diberikan jalan keluar yang terbaik, dinaikkan derajatnya oleh Allah, dan dijauhkan dari jalan yang penuh kesulitan. Semoga ia dan banyak orang dalam kondisi serupa mendapatkan bantuan, sehingga tidak terpaksa melakukan hal-hal yang melanggar hukum demi sesuap nasi.
Redaksi: pengawalkebijakan.id medsos
