16 Agustus 2026
Spread the love

GORONTALO — Kehadiran Jembatan Bailey sepanjang 40 meter di Dusun Titileya, Desa Pulubala, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, menjadi angin segar bagi masyarakat yang selama ini mengandalkan akses tersebut untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

 

Jembatan rangka baja itu difasilitasi melalui peminjaman oleh Pani Gold Mine sebagai akses sementara menyusul ambruknya Jembatan Pulubala pada April 2025.

 

Peresmian Jembatan Bailey tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Gorontalo Tonny Yunus, Direktur Pani Gold Mine Boyke Abidin, Ketua Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo Mikson Yapanto, serta sejumlah unsur pemerintah daerah dan pihak terkait.

 

Ketua Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo, Mikson Yapanto, menyampaikan apresiasi kepada Pani Gold Mine atas dukungan yang diberikan kepada masyarakat. Menurutnya, keberadaan jembatan sementara tersebut memiliki arti penting karena menjadi salah satu jalur yang mendukung mobilitas warga sekaligus aktivitas ekonomi di wilayah Pulubala.

 

“Jembatan ini sangat penting bagi masyarakat karena menjadi akses utama, terutama untuk kegiatan ekonomi warga dan pengangkutan hasil-hasil pertanian,” ujar Mikson.

 

Ia menjelaskan, kerusakan Jembatan Pulubala sebelumnya memberikan dampak cukup besar terhadap aktivitas masyarakat. Selain menghambat mobilitas, kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu distribusi hasil pertanian dan aktivitas perdagangan warga.

 

Karena itu, dibutuhkan akses alternatif agar kegiatan masyarakat tetap berjalan sembari menunggu pembangunan jembatan permanen.

 

Menurut Mikson, pemanfaatan Jembatan Bailey menjadi salah satu solusi yang dapat menjawab kebutuhan tersebut. Terlebih, pembangunan jembatan permanen membutuhkan dukungan anggaran yang tidak sedikit.

 

“Untuk sementara Pani Gold Mine meminjamkan Jembatan Bailey ini. Kita sambil menunggu anggaran dari pemerintah pusat untuk pembangunan Jembatan Pulubala secara permanen,” jelasnya.

 

Mikson menilai, penggunaan jembatan Bailey juga memberikan ruang bagi pemerintah untuk lebih efisien dalam mengelola anggaran. Pemerintah tidak perlu mengalokasikan biaya besar untuk membangun akses darurat, sehingga perhatian anggaran dapat diarahkan pada pembangunan jembatan permanen.

 

Meski demikian, Mikson mengingatkan agar keberadaan jembatan sementara tidak membuat pembangunan Jembatan Pulubala secara permanen menjadi terlupakan.

 

Ia meminta pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, DPRD, hingga pemerintah pusat terus melakukan koordinasi dan mengawal proses penganggaran pembangunan jembatan tersebut.

 

“Jangan sampai karena sudah ada jembatan sementara, pembangunan permanennya kemudian terlupakan. Ini harus tetap dikawal sampai ada jembatan permanen,” tegasnya.

 

Mikson juga mengapresiasi sinergi antara pemerintah dan pihak perusahaan dalam membantu memenuhi kebutuhan infrastruktur masyarakat. Menurutnya, kolaborasi semacam ini penting, khususnya ketika masyarakat membutuhkan solusi cepat sebelum pembangunan infrastruktur permanen dapat direalisasikan.

 

Dengan beroperasinya Jembatan Bailey, masyarakat kini memiliki akses yang lebih memadai untuk menjalankan berbagai aktivitas, mulai dari mobilitas sehari-hari, perdagangan, distribusi barang hingga pengangkutan hasil pertanian.

 

Namun bagi Mikson, jembatan Bailey tetap harus ditempatkan sebagai solusi sementara. Target akhirnya adalah pembangunan kembali Jembatan Pulubala secara permanen dengan konstruksi yang lebih kuat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.

 

Ia berharap dukungan anggaran dari pemerintah pusat dapat segera terealisasi sehingga pembangunan Jembatan Pulubala tidak berlarut-larut dan masyarakat dapat kembali menikmati akses infrastruktur yang aman dan permanen.

 

reporter:yoker

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *