Pemberlakuan Nelayan Cantrang Membunuh Nelayan Tradisional

images 5
images 5

Pemerintah Indonesia akan mengesahkan dan memberlakukan regulasi yang melegalkan kembali alat penangkapan ikan (API) yang saat ini masih dilarang, seperti cantrang

Nelayan tradisional di Indonesia, khususnya nelayan tradisional di Kalimantan Selatan menolak rencana pemberlakuan kembali penggunaan alat tangkap cantrang oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)

Penggunaan kembali Cantrang dikhawatirkan menambah benturan masalah nelayan tradisional dan nelayan besar serta menambah eksploitasi sumber daya ikan

Secara sosial diketahui Nelayan Cantrang menjadi keresahan bagi nelayan kecil karena menjadi kompetitor utama. Alat tangkap ini juga mengancam atau mengganggu alat tangkap yang digunakan oleh nelayan tradisional. Ketika nelayan cantrang beroperasi di perairan Kalimantan Selatan maka alat tangkap nelayan tradisional ikut rusak dan ikut terbawa ditarik.

Rencana pemberlakuan dan pembiaran kembali penggunaan alat tangkap Cantrang oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP),
mendapat penolakan keras dari nelayan tradisional di Indonesia, khususnya nelayan tradisional di Kalimantan Selatan karena saat ini masi status dilarang tetap saja datang mengaduk perairan laut Kalimantan Selatan.

Jika itu diizinkan kembali, tidak menutup kemungkinan akan terulang kembali peristiwa seperti terjadi dipulau keryaaan Kota Baru Tahun 2006 dan peristiwa di perairan Taboneo Tanah Laut.

Nelayan tradisional Pulau Sembilan menyatakan dari 1987 sampai 2020 di perairan laut pulau sembilan dan sekitarnya terjadi paceklik ikan, akibat penarikan Nelayan cantrang atau pukat harimau secara besar-besaran.

Khususnya perairan yg paling parah adalah Wilayah Kota Baru. saat itu terjadi eksodus besar-besaran, dikarenakan mereka tidak bisa dikasi tau/membangkang

“Apakah nelayan kita ke depan kembali di eksodus keluar dari ruang kelolanya akibat diresmikannya kembali Nelayan Cantrang pukat trawl ini. atau membiarkan keputusan menteri ini.

Intinya sebenarnya adalah Nelayan Tradisional di perairan Kalimantan Selatan Sangat mengalami kesulitan rompong ikan hancur Gill net labu Mereke hilang. jaring kepiting mereka hancur.dan sangat meresahkan adanya nelayan cantrang tersebut.
ungkap Hasrifin Rifai perwakilan nelayan tradisional pulau sembilan
Yuni perwakilan Nelayan Tluk tamian
Kepala Desa Tanjung Kunyit kota baru
H. Arifin Perwakilan Nelayan Muara Kintap.

Melakukan pembiaran terhadap nelayan cantrang itu merupakan tindakan membunuh nelayan tradisional,
Karena Nelayan tradisional pencari ikan dan kepiting mendapatkan imbas pahit jika nelayan cantrang diberlakukan pembiaran.

Usman Pahero.akrifis Nelayan Kab Kota baru Mengatakan. Kehadiran kapal candrang membuat pendapatan dan hasil nelayan Kita tekor/rugi perongkosan/biaya operasional sampai jutaan. Dampaknya, menjadi beban hutang bagi punggawa, nahkoda dan para ABK/sawi. Dan Bila di biarkan, bisa berpotensi konflik. Perlu Segera di mediasi oleh pemangku yg berwenang.

alat tangkap ini sudah jelas diatur, Permen KP No.2/2015 melarang penggunaan pukat hela atau pukat trawl khususnya, dan pukat tarik.

Ternyata larangan ini memicu aksi demonstrasi, dan pada akhirnya muncul kembali hingga saat ini mereka tetap beroperasi hanya dengan surat edaran Dirjen KKP, yang sebenarnya sangat riskan sekali, karena tidak memiliki dasar hukum kuat

Menurutnyan aktifis nelaya Alimuddin.. cantrang harus diatur penggunaannya dan sanksi hukum pelanggarannya. “Kalau tidak pemerintah akan sulit karena dilarang pun tetap saja memasuki perairan nelayan tradsional kalau tidak ya seperti ini sumber daya ikan yang akan hancur, Permen KP No 71 tahun 2016 tentang jalur penangkapan ikan dan penempatannya pemrintah harus mengawalnya dengan serius.ujar Alimuddi.

Apa bila pemerintah melakukan pembiaran terhadap nelayan cantrang tidak menutup kemungkinan akan terjadi lagi over eksploitasi perikanan.

Sehingga kekhawatiran akan menambah tekanan masalah, utamanya kepada nelayan tradisional, dan merugikan sumberdaya alam dimasa yang akan datang karena ada beberapa ancaman yang dilahirkan oleh penggunaan API Cantrang di perairan Indonesia. ( Red )