19/05/2022
Achmad-Baidowi-Penyataan-Kemendag-Soal-Masyarakat-Timbun-Minyak-Goreng-Sangat-Menyakitkan-F.01.jpg

Achmad Baidowi, Penyataan Kemendag Soal Masyarakat Timbun Minyak Goreng Sangat Menyakitkan F.01

Pengawal Kebijakan- Gedung DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI Achmad Baidowi menilai pernyataan Kementerian Perdagangan (Kemendag) bahwa masyarakat melakukan penimbunan minyak goreng, sehingga terjadi kelangkaan, sangat menyakitkan masyarakat. Kalau masyarakat disebut menyimpan minyak hanya dua liter adalah karena kebutuhan, bukan karena ingin melakukan penimbunan.
“Pernyataan dari Kemendag bahwa kelangkaan minyak goreng salah satunya disebabkan karena penimbunan oleh warga. Tentu ini pernyataan yang sangat menyakitkan, bahkan tuduhan yang tidak menggunakan logika akal sehat,” jelas Awiek, sapaan akrab Baidowi, sebagaimana video yang diterima ParlementariaRabu (9/3/2022).

Menurut Anggota Fraksi PPP DPR RI tersebut, tidak logis masyarakat kecil lakukan penimbunan. Sebab, minyak goreng barangnya langka dan harganya pun juga sangat tinggi. Karena itu, ia meminta lebih baik Kemendag bersikap profesional dan proporsional dalam menjalankan tugas. “Menyampaikan statement yang bersifat tuduhan kepada masyarakat itu sama hal dengan buang badan, melempar persoalan kepada orang lain,” tegasnya.

Achmad-Baidowi-Penyataan-Kemendag-Soal-Masyarakat-Timbun-Minyak-Goreng-Sangat-Menyakitkan-F.02.jpg
Achmad-Baidowi-Penyataan-Kemendag-Soal-Masyarakat-Timbun-Minyak-Goreng-Sangat-Menyakitkan-F.02.jpg

Daripada melempar tuduhan seperti itu, lebih baik Kemendag secara gamblang menjelaskan ke masyarakat terkait tata niaga minyak goreng dari hulu sampai hilir. “Kedua, kalau Kemendag tidak mampu mengatur tata niaga minyak goreng ini ya minta maaf saja. Misalnya, tidak bisa kendalikan harga akibat dari ulah spekulan, akibat ulah dari distributor ataupun ulah dari pengepul, ataupun para produsen,” jelasnya.

Baca Juga : Kementerian ATR/BPN Dan DJKN Bangun Digitalisasi Sistem Administrasi Pertanahan Guna Permudah Proses Layanan

Sehingga, Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI itu berharap ke depannya, Kemendag berhati-hati untuk mengeluarkan pernyataan agar tidak menimbulkan polemik baru di masyarakat.

Sebelumnya, Inspektur Jenderal Kemendag Didid Noordiatmoko mengungkapkan, muncul muncul persoalan baru yang merupakan dampak dari kenaikan harga dan kelangkaan barang yakni panic buying. Akibat sempat kesulitan mendapatkan minyak goreng dengan harga yang terjangkau, membuat masyarakat membeli melebihi kebutuhan ketika mendapatkan kesempatan.

Padahal hasil riset menyebutkan kebutuhan minyak goreng per orang hanya 0,8-1 liter per bulan. Artinya, kini banyak rumah tangga menyetok minyak goreng. “Tapi ini baru terindikasi,” kata dia saat kunjungan kerja ke Palembang seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (6/3/2022). (rdn/sf)

Sumber : https://www.dpr.go.id/

Bagikan