MENGENAL SOSOK PELOPOR EMANSIPASI WANITA YANG DIPERINGATI SETIA 21 APRIL

Sosok RA Kartini

Sosok RA Kartini

73 / 100
Pengawalkebijakan.id- Seorang tokoh pendobrak keterbatasan peran perempuan dan pelopor kesetaraan gender di indonesia. Sosok Kartini menunjukkan bahwa perempuan bisa berperan lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dibidang pendidikan.
Kalian pasti sangat akrab dengan sosok pahlawan yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah, yaitu R.A. Kartini. Beliau dikenal sebagai sosok wanita pemberani yang memperjuangkan hak-hak kesetaraan gender pada masa kolonial Belanda.

Tepat tanggal 21 April 1879, lahirlah seorang anak dari R.M.A.A. Sosroningrat dan M.A. Ngasirah yang diberi nama R.A. Kartini. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari ke semua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya.

Baca Juga : Kantor Pinjol Di Surabaya Dan Sidoarjo Digrebek Polda Jatim

Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Pada usia 24 tahun ia menikah dengan bupati Rembang, Raden Adipati Djojodiningrat. Kartini tumbuh dan menjalani pendidikan modern. Dari sanalah, Kartini memiliki pandangan bahwa pendidikan bagi perempuan adalah kunci penting bagi emansipasi manusia. Pada usia remaja, ia berhasil melahirkan sebuah karya yang terbit di Holandsche Leile yang berjudul “Upacara Perkawinan pada Suku Koja”. Kartini juga sering membagikan pemikirannya kepada teman-teman Belanda dengan menulis sejumlah surat berbahasa Belanda.

Baca Juga :

Salah satu buah pemikirannya yang paling berpengaruh adalah buku “Door Duisternis tot Licht” atau biasa kita kenal “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku tersebut merupakan kumpulan surat-surat Kartini yang ia kirimkan pada teman-temannya di Belanda, salah satunya seorang sahabat pena bernama Rosa Abendanon.

Surat-surat tersebut berisi pemikiran Kartini terkait tradisi feodal, pernikahan paksa, serta poligami, hingga gagasan mengenai pentingnya pendidikan bagi anak perempuan. Kartini juga mengeluhkan budaya Jawa kala itu yang ia pandang menghambat kemajuan perempuan

Sayangnya, pemikirannya tersebut belum sempat ia wujudkan karena ia meninggal pada usia 25 tahun setelah melahirkan bayi laki-laki pada 17 September 1904. Namun, pemikiran Kartini menjadi inspirasi pergerakan di Indonesia. Tulisannya itu kemudian menjadi dasar gerakan antikolonial dan membuatnya sebagai pelopor emansipasi wanita. Atas hal tersebut ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 1964, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964.

Kehebatan pemikiran Kartini menjadi warisan yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Gagasannya banyak mempengaruhi banyak masyarakat, khususnya wanita untuk ikut berperan dalam gerakan emansipasi dan persamaan hak.

Jurnalism : (SN).