Sejumlah Anak SDN Korban Pencabulan dan Pemerkosaan, Bagaimana Status Kabupaten Pandeglang Sebagai Daerah Ramah Anak?

Pengawalkebijakan.id, Pandeglang   Sebut saja namanya Bunga, umur 10 tahun, siswi kelas 5 sekolah dasar diduga telah menjadi korban pencabulan sejak dia masih duduk di baagku kelas 3, pelakunya oknum masyatakat di lingkungan sekolah tempat Bunga belajar. Pantaskah kasus ini dianggap sekedar kasus?

Sabtu 26 Oktober 2019, keluarga Asep Sundayana (38 thn) warga Kampung Ciwangun RT 002 RW 003, Desa Sukajadi, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang. Banten mendatangi rumah kediaman Ny. Lilis Nurhendrawati, di Cibaliung. Lilis adalah Aktivis Perempuan (independen) warga Jakarta yang turut suaminya Saprudin MS (Pempred Media Jurnal Abdijustisia) bermukim di Cibaliung. Asep datang beserta istrinya Asnah (34 thn), Anak perempuannya berinisial DEP/Bunga (10 Thn) siswi SDN Sukajadi 4, dan diantar oleb beberapa orang keluarga besarnya.

Maksud kedatangan Asep minta bantuan pendampingan, saran dan petunjuk dari Lilis sebagai Aktifis Perempuan, jalan apa yang harus ditempuh oleh keluarga Asep atas maslah hukum yang dirasakannya tidak memuaskan dalam hal pelayanan oleh pihak aparat. Menurut Asep pelayanan yang lamban dan tidak jelas kepastiannya apakah ditangani atau tidak.

Diceritakan Asep kepada Lilis, bahwa Bunga anak perempuannya yang masih berusia sangat belia itu (diduga) telah menjadi korban pencabulan dan pemerkosaan sejak dia masih di kelas 3 SD. Menurut Asep pelakunya (diduga) berinisial nama EN, sekira usia 47 tahun, warga Kp. Ciwangun.

“Kami sudah melaporkan kasus ini ke Polres Pandeglang. Dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) Banten juga sudah turun, KPAI diberitahukan oleh pendamping PKH. tapi kami tidak mengerti kenapa polisi belum tangkap juga itu pelakunya,” ungkal Asep.

Diketahui dengan pasti bahwa benar Asep telah melaporkan kasus yang menimpa putrinya Bunga di Mapolres Pandeglang berdasarkan surat tanda penerimaan laporan (STPL). Nomor: STPL /161 /IX /2019 /Banten /Res.Pandeglang. Dilaporkan pada tanggal 19 September 2019. Kemudian bukti lain yang dapa dilihat adalah buku pasien berobat jalan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Permata Ibunda, Pandeglang, Banten. No RM. 133735. Nama: Bunga. Umur: 10 tahun. Pekerjaan Pelajar.

Liis Nurhendrawati mengatakan, dalam menyikapi kasus Bunga pihaknya sudah melakukan komunikasi telephon dengan Propam Polda Banten untuk minta bantuan pemantauan terhadap kinerja aparat Kepolisian Resort Pandeglang sehubungan dengan kekhawatiran keluarga korban (Asep). Dia juga mengaku sudah menghubungi KPAI Banten langsung berbicara dengan seorang yang mengaku nama Sdr. Sukma Hadi.

“Bagaimana bisa kasus ini dianggap sebagai kasus sepele saja. KPAI sudah mengetahui bahkan sudah turun ko belum ada tindakan yang nyata dari pihak kepolisian. Tidak ada SP2HP (surat pemberitahuan perkembaagan hasil penyidikan) berarti samapi sekarang ini polisi Pandeglang belum bekerja, jika kasus terlantar seperti ini akan saya bawa ke pusat,” kata Lilis kepada tim wartawan di kediamannya. Sabtu (26/10/2019)

Cerita Bunga Pada Wartawan

Dalam kesempatan yang rileks dan asik dengan permainannya bunga akrab bekomunikasi dengan wartawan Saprudin MS. Begini cerita Bunga kepada wartawan.

Bunga, cantik, bagaimana disekolahnya teman-teman pada baik semua pada Bunga? “Teman-teman di sekolah pada baik tapi kalau ga di sekolah suka meledek, ngatain Bunga sudah di e*e oleh EN,” jawab Bunga.

Ini buku berobat jalan milik Bunga ya. Memangnya bunga sakit apa? Boleh cerita dong pada kakak? “Bunga ga sakit. cuma itu di ee bae oleh EN. pertama sakit, berdarah. kalau di ee dengan ini (Bunga memperlihatkan dan memperagakan jari telunjuknya) dikasih uang 3000, kalau dengan K**t*l di kasih 5 ribu,” papar Bunga, dengan polos dan tanpa beban rasa malu.

Bunga ga bilang pada ibu dan bapak bunga, kalau Bunga suka digituin oleh EN? “Bunga takut, di rumahnya ada golok, Bunga ga boleh bilang siapa-siapa,” kata Bunga.

Bunga suka digituin sama EN, dengan siapa saja? “Iya. dengan teman teman. ada laki lakinya . Aku/Bunga (10). NJ (perempuan, 10 thn). VN (permpuan. 9 thn) NG (perempuan. 6 th ) NVI (permpan. 7 thn) ADR (laki-laki. 10 tahun),” sebut Bunga.

Kasus Diketahui Sudah Sejak Lama

Menurut infotmasi aparat Desa Sukajadi, Tata Gantika, Sekdes, kepada wartawan mengatakan bahwa kasus ini sebenarnya sudah lama diketahui dan bukan rahasia umum lagi. “Masalah ini diketahui sudah lama pak, Bahkan kami dari atas nama utusan Pemerintah Desa Sukajadi sempat datang pada keluarga Asep. Menanyakan bagaimana sebenarnya terjadi dan akan memberikan bantuan hukum melalui PKH, tapi entah apa masalahnya keluarga Asep masih menutupi, kemudian belakangan kami mendemgar bahwa keluarga Asep lapor polisi,” kata Sekdes.

Diterangkan Tata lebih lanjut, bahkan dari KPAI Banten sudah turun juga atas informasi dari para pendamping PKH. “KPAI Banten sudah turun dengan tim bantuan hukum dari PKH, pak Novan,” ujar Sekdes.

Disesalkan, Anggota DPRD Kabupaten Pandeglang Bersikap Apatis

Seorang anggota DPRD Kabupaten Pandeglang berinisial nama KMD, dari Paratai Kebangkitan Bangsa. Tinggal di Pasar Sukajadi, satu desa dengan keluarga korban hanya tetangga kampung dan RT. RW. saja yang berbeda, diberitahukan oleh wartawan melalui jatingan pribadi (Japri) WA mengenai informasi kasus Bunga yang luar biasa, perlu perhatian dan tindakan khusus, dia haaya menjawab singkat dan terkesan apatis (masa bodoh).

Tinggal laporan aja keluarganya, bawa bukti visum dan lain-lain……. Ini ranah hukum,” Kata KMD, anggota DPRD Kabupaten Pandeglang dari Partai Kebangkitan Bangsa.

Jawaban yang tidak mencerminkan sebagai sikap seorang politisi dan pejabat publik yang mewakili kepentingan konstituen dari dapil yang dia wakili. Terkesan sebagai politisi yang tidak memahami posisi dan kapasitas dirinya sebagai wakil rakyat dan tidah memahami urgensi masalah sosial yang ada di masyarakat. Wakil rakyat yang  tidak bertangungjawab.

Ironis. dimana-dmana pemerintah daerah /kabupaten sedang berupaya untuk meraih pengakuan status daerah ramah anak. Tapi di Kabupaten Pandeglang ada seorang pejabat publik (anggota DPRD) diberi informasi telah terjadi kasus luar biasa dan krusial (pencabulan pada sekelompok anak SDN) menanggapainya dengan sikap apatis, seperti mengagap hal sepele saja terhadap kasus sangat serius ini. [Tim]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *