Menakar Komposisi Kabinet Indonesia Maju

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo telah melantik resmi menteri dan wakil menteri (wamen) untuk Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024.

Telah dilantiknya para Kabinetnya membuat para kalangan geleng kepala dan terkejut, karena kali ini Presiden Joko Widodo melakukan terobasan cukup unik dan berani dalam menempatkan para menterinya.

Diantaranya yang berkomenter Kepala Riset Buana Capital Suria Dharma menilai, susunan menteri dan wamen di kabinet Jokowi Jilid II cukup mengejutkan, seperti salah satunya masuknya mantan CEO Gojek Nadiem Makarim sebagai Mendikbud.

“Kabinetnya sih cukup baik, banyak terobosan yang cukup revolusioner dalam pemilihan beberapa orang-orangnya,” ungkapnya kepada Liputan6.com, Sabtu (26/10/2019).

Selain itu, ada juga sosok Angela Tanoesoedibjo, putri Hary Tanoesodibjo sebagai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) yang masuk di daftar menteri Kabinet Indonesia Maju.

Kendati demikian, masuknya Angela sebagai figur pengusaha dinilai tak akan mempengaruhi pasar di bursa saham.

“Nggak ngaruh karena kan posisinya Wamenparekraf. Mungkin tantanganya karena terlalu muda bagaimana dia bisa menghadapi birokrat,” paparnya.

Hal senada ikut diutarakan oleh Ekonom Centre of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah.

Menurutnya, tantangan bagi Angela atau pengusaha yang masuk ke pemerintahan ialah mempermudah akses birokrasi yang selama ini masih berbelit-belit.

“Diharapkan tidak menambah atau memperbanyak jalur birokrasi. Semoga adanya wamen justru bisa mempercepat keluarnya kebijakan kementerian atau kalau di bumn bisa membantu mempercepat aksi korporasi BUMN,” pungkas dia.

Sebagimana juga dilansir oleh media nalarpolitik.com, dari jabatan kementerian Kabinet Indonesia Maju ini, tentu ada wajah-wajah baru, orang baru, dan juga orang lama dari kabinet sebelumnya. Berdasarkan komposisi menteri Kabinet Indonesia Maju, sebanyak 45% berasal dari politisi dan sisanya 55% dari profesional.

Komposisi Kabinet

Tugas menteri pada kabinet ini secara umum adalah untuk menjalankan visi-misi presiden dalam bentuk program kerja. Jadi tidak ada visi menteri, tapi yang ada hanya visi presiden. Ini berarti para menteri di Kabinet Indonesia Maju ini merupakan perpanjangan tangan presiden dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Meskipun menteri hanya sebagai pembantu presiden, tetapi posisi menteri sangat strategis karena menteri membantu presiden dalam rangka menjalankan kekuasaannya sebagai kepala pemerintahan.

Titik Fokus Kita

 

Melihat komposisi kabinet kali ini, ada beberapa posisi menteri yang menurut hemat saya harus menjadi fokus pembahasan publik. Ini sebagai upaya menakar kabinet yang dipimpin Jokowi-Amin ini.

Pertama, yang sangat menjadi perhatian publik adalah bergabungnya Prabowo ke dalam kabinet sebagai menteri pertahanan yang pada momentum pilpres kemarin adalah lawan dari Jokowi. Ini memperkuat slogan politik bahwa dalam politik tidak lawan dan kawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan abadi.

Kedua, Menkopulhukam. Pada posisi menteri ini dijabat oleh Mahfud MD, profesinya adalah pakar hukum tata negara yang juga pernah menjabat sebagai Ketua MK. Setelah dilantik menjadi Menkopolhukam membuat Mahfud MD menjadi sipil pertama yang menjabat menteri di bidang yang mengurus kehidupan politik, hukum, dan keamanan RI.

Kita pun sangat optimis dengan pengalaman dan kapasitasnya seorang Mahfud MD mampu menyelelesaikan segala persoalan di bidangnya.

Ketiga, Menteri Agama dijabat oleh Fachrul Razi, yang telah diketahui bersama bahwa sosok Fachrul Razi ini adalah kalangan militer. Beliau adalah mantan wakil panglima TNI, yang sebenarnya posisi ini harus diisi orang yang mempunyai profesionalisme di bidang ini.

Keempat, Mendikbud. Yang paling menjadi pembahasan hangat di antara semua jajaran menteri adalah sosok Nadiem Makarim yang ditunjuk jokowi sebaga Mendikbud. Nadiem adalah yang paling muda usianya dari semua menteri yang ada.

Dikenal sebagai pengusaha muda yang mempunyai perusahaan Gojek, membuat publik terus bertanya-bertanya. Bisakah Nadiem membawa arah pendidikan Indonesia dengan baik? Kita tunggu saja apa yang akan terjadi.

Keenam, ada juga Mendagri yang dijabat oleh Tito Karnavian yang berlatar belakang kepolisian. Padahal semestinya jabatan ini harus diisi oleh orang yang telah berpengalaman dan mempunyai kapasitas di birokrasi.

Di sisi lain, ada kesan yang disampaikan Rudi S. Kamri dalam tulisannya (rri.co.id, 23/10/2019) bahwa secara keseluruhan, Kabinet Indonesia Maju ini berwajah keras dan garang. Penunjukan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan (Menhan), Fachrul Razi sebagai Menteri Agama (Menag), dan Tito Karnavian sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri) cukup mengesankan pragmatisme Presiden Jokowi dalam menyusun tim kerjanya.

Ada aroma kuat Presiden Jokowi ingin mengamankan program kerjanya tanpa pusing diganggu oleh kelompok- kelompok radikal yang berpotensi merongrong jalannya pemerintahan.

Dengan ‘conductor’ dari Mahfud MD sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam), diharapkan potensi gangguan dari kelompok destruktif tersebut bisa dijinakkan dengan mudah.

Tetapi ini sekali lagi ini dinamika politik yang apa pun bisa terjadi dan segala keputusan ada di tangan seorang presiden. Kita harus optimis dan yakin segala keputusan akan ada hasilnya. (r/d)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *